Sabtu, 13 Jun 2026 17:29 WIB

RPH Tambak Osowilangun Tak Susai Janji Pemkot Surabaya, Asosiasi Jagal dan Pedagang Daging Ancam Demo dan Mogok

Beritakasus.com//Surabaya – Asosiasi Jagal dan Pedagang Daging kota Surabaya melayangkan kritik tajam terkait standardisasi operasional Rumah Potong Hewan (RPH) baru di kawasan Tambak Osowilangun (TOW). Fasilitas yang digadang-gadang menjadi pusat pemotongan modern tersebut dinilai masih jauh dari kata layak dan belum siap memenuhi standar teknis pemotongan hewan yang ideal.

Ketua Asosiasi Jagal dan Pedagang Daging Sapi Kota Surabaya, Abdullah Mansyur, mengungkapkan kekecewaannya setelah meninjau langsung dan menerima berbagai keluhan dari para jagal di lapangan. 

Menurutnya, kondisi RPH TOW saat ini mesih belum layak, bakan justru berpotensi menurunkan kualitas daging dan merugikan para jagal dan pedagang daging.

"Jika melihat fakta di lapangan, tempat ini belum pantas disebut sebagai RPH yang representatif. Banyak standardisasi teknis yang tidak sesuai dengan kebutuhan riil proses produksi daging halal dan higienis," ujar Abdullah Mansyur saat diwawancarai media, Kamis (12/6/2026).

Beberapa Masalah Teknis Utama di Area Pemotongan
Abdullah Mansyur membeberkan kelemahan fatal yang ditemukan pada infrastruktur bagian dalam RPH Tambak Osowilangun:
1. Aliran Darah Sapi Tidak Mengalir Maksimal: Desain tempat penyembelihan membuat proses pengeluaran darah pasca-pemotongan tidak berjalan tuntas. Darah yang tertahan di dalam diwilayah pemotongan yang berpotensi tercampur dapat mempercepat pembusukan dan memengaruhi kehalalan daging sesuai syariat.
2. Jarak Pencacahan Terlaju Jauh: Layout bangunan menempatkan ruang pemotongan awal dan pos pencacahan (cutting area) dalam jarak yang terlalu berjauhan. 

Hal ini membuat alur kerja menjadi tidak efisien, menguras tenaga pekerja, dan memperlama waktu penanganan daging segar.
3. Akses masuk ke dalam: jalan yang terlalu sempit untuk masuk ke dalam area Pemotongan menyusahkan para jagal untuk memasukkan sapi.
4. Katrol dan Troli yang tidak berfungsi maksimal: penggerek yang harus meninggikan sapi setelah dipotong tidak berfungsi maksimal, harus bekerja estra agar bisa diangkat. 
5. Mobil pengangkut Daging: armada yang digadang-gadang sebagai fasilitas peggangkut daging yang disediakan Rph belum dipakai sudah rusak. 

Apalagi unitnya hanya terdapat  satu.
6. Akses Jalan Macet Menghambat Distribusi: Selain persoalan di dalam gedung, problem eksternal yang tidak kalah krusial adalah aksesibilitas. 

Jalur menuju kawasan Tambak Osowilangun dikenal padat dan rawan kemacetan, terutama pada jam-jam krusial pengiriman daging ke pasar tradisional.

"Rantai pasok daging segar itu berpacu dengan waktu. Dengan kondisi jalanan yang sering macet total, distribusi daging ke pasar-pasar di pusat Kota Surabaya menjadi sangat terlambat," tegas Abdullah.

Keterlambatan ini dikhawatirkan membuat daging mengalami penurunan kualitas sebelum sampai ke tangan konsumen.

Atas berbagai temuan tersebut, Asosiasi Jagal dan Pedagang Daging Sapi Kota Surabaya mendesak Pemerintah Kota Surabaya dan manajemen RPH Surabaya untuk segera Memperbaiki operasional di lokasi baru. Mereka meminta adanya audit teknis independen dan dialog terbuka guna merenovasi fasilitas agar sesuai dengan kebutuhan para jagal di lapangan.

 

( Red)

Editor : Priyo