Jumat, 05 Jun 2026 08:12 WIB

Eko Gagak: Refleksi Hari Kebangkitan Nasional ke-118 Tumbangkah Nasionalisme? atau Ditumbangkan! 

Beritakasus.com// Surabaya - Hari Kebangkitan Nasional ke-118 menjadi momentum untuk mengenang sejarah berdirinya Boedi Oetomo pada 20 Mei 1908. Organisasi yang didirikan oleh tokoh-tokoh seperti Dr. Soetomo, Dr. Wahidin Soedirohusodo, H.O.S. Tjokroaminoto, Ki Hajar Dewantara, Eduard Douwes Dekker, dan Dr. Cipto Mangunkusumo bersama mahasiswa STOVIA di Jakarta menjadi tonggak awal pergerakan nasional yang terorganisir di tanah air.( 20 Mei 2026)

Sebelum tahun 1908, perlawanan terhadap penjajah bersifat lokal dan sporadis. Pada masa imperialisme dan kolonialisme Hindia Belanda, masyarakat pribumi mengalami penderitaan panjang akibat eksploitasi ekonomi dan kebijakan liberal kolonial. Kondisi tersebut melahirkan kritik keras dari Eduard Douwes Dekker melalui novel Max Havelaar yang mengecam kebijakan pemerintah kolonial dan menggugah lahirnya kebijakan "Politik Etis" dengan program irigasi, edukasi, dan transmigrasi. 

Boedi Oetomo lahir dari keresahan terhadap penderitaan rakyat akibat penjajahan. Organisasi ini bergerak melalui bidang sosial dan budaya tanpa terlibat langsung dalam politik praktis. Fokusnya pada pendidikan, kesehatan, dan kebudayaan menjadi sarana membangkitkan kesadaran nasional memperbaiki kondisi rakyat pribumi. Hari Kebangkitan Nasional bukan hanya mengenang masa lalu, tetapi juga menjadi pengingat pentingnya persatuan, gotong royong, nasionalisme, dan menjaga keutuhan bangsa dan negara di tengah berbagai krisis. Namun pertanyaannya hari ini, tumbangkah nasionalisme? Atau justru ditumbangkan? 

Pertanyaan menjadi sangat relevan ketika masyarakat menyaksikan meningkatnya kesenjangan sosial, krisis ekonomi, pengangguran, hingga menurunnya kepercayaan publik terhadap pemerintah dan lembaga perwakilan rakyat. Ketidakmampuan pemerintah dan lembaga perwakilan rakyat dalam mengatasi persoalan kesejahteraan dapat memicu kekecewaan sosial yang menggerogoti rasa nasionalisme. Ketimpangan antara kaya dan miskin, sulitnya lapangan pekerjaan, dan lemahnya penegakan keadilan sosial membuat seluruh rakyat semakin jauh dari cita-cita kemerdekaan. 

Ketika amanah publik dicederai oleh praktik Korupsi Kolusi dan Nepotisme (KKN), masyarakat kehilangan optimisme terhadap arah bangsa. Belum lagi pengaruh globalisme dan kepentingan kelompok yang menempatkan kepentingan pribadi di atas kepentingan bangsa dan negara. Persoalan ketenagakerjaan menjadi ancaman serius dan gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), lemahnya perlindungan sosial, dan minimnya penciptaan lapangan kerja menjadi bom waktu jika tidak segera ditangani secara serius. 

Lulusan produktif yang tidak terserap industri berisiko masuk dalam lingkaran pengangguran berkepanjangan. Ketika masyarakat kehilangan pekerjaan maka daya beli dan ekonomi melemah bahkan meningkatnya pengangguran berkorelasi dengan peningkatan kriminalitas secara signifikan. Nasionalisme tidak cukup diwujudkan dalam slogan, nasionalisme harus hadir dalam kebijakan yang berpihak kepada seluruh rakyat. Fenomena penggunaan simbol "Bendera Bajak Laut One Piece" oleh sebagian besar anak-anak muda bukan penolakan terhadap nasionalisme, tetapi ekspresi kegelisahan terhadap masa depan bangsa dan negara. 

Kekecewaan publik terhadap penegakan hukum "tajam ke bawah dan tumpul ke atas" selalu menjadi persoalan serius yang terus menerus mengikis kepercayaan terhadap hukum negara. Di era reformasi hampir tiga dekade ini, praktik Korupsi Kolusi dan Nepotisme (KKN) mengakar dan menjadi penyakit kronis bangsa dan negara. Penegakan supremasi hukum harus dilakukan secara adil tidak tebang pilih. Hukuman berat atau hukum mati bagi koruptor dan segera di sahkan Undang-Undang Perampasan Aset menjadi penting untuk memulihkan kepercayaan seluruh rakyat Indonesia. 

Hari Kebangkitan Nasional menjadi momen refleksi bahwa perjuangan bangsa dan negara belum selesai. Musuh terbesar hari ini bukan lagi kolonialisme asing serta aseng tetapi ketidakadilan, kemiskinan, pengangguran, korupsi, kolusi, dan nepotisme. Semoga semangat kebangkitan nasional mampu membangunkan kembali kesadaran kolektif untuk menjaga persatuan dan kesatuan menyelesaikan persoalan bangsa dan negara dengan keberpihakan kepada seluruh rakyat Indonesia. 
"Selamat Hari Kebangkitan Nasional" 
Eko Gagak (Aktivis ’98)


(Red)

Editor : Priyo