Minggu, 13 Sep 2026 19:38 WIB

Kepadatan Jalur Logistik Ketapang Kembali Terpantau, Mbah Semar Dorong Evaluasi Sistem Antrean

Beritakasus.com//Banyuwangi — Kepadatan kendaraan berat kembali terpantau di jalur menuju Pelabuhan Penyeberangan ASDP Ketapang, Banyuwangi, Minggu (13/9/2026).

Sejumlah kendaraan angkutan barang terlihat memadati ruas Jalan Gatot Subroto hingga Jalan Raya Situbondo, Kelurahan Bulusan, Kecamatan Kalipuro, yang merupakan salah satu akses penting menuju kawasan pelabuhan.

Berdasarkan pantauan visual sekitar pukul 13.53 hingga 14.00 WIB, arus lalu lintas didominasi truk dan kendaraan angkutan barang.

Kepadatan membuat laju kendaraan di sejumlah titik berjalan lebih lambat dibandingkan kondisi normal.

Kondisi tersebut menjadi perhatian mengingat kawasan Ketapang merupakan salah satu simpul penting pergerakan kendaraan dan distribusi logistik Jawa–Bali.

Peningkatan volume kendaraan berat berpotensi memengaruhi kelancaran lalu lintas apabila tidak diimbangi dengan pengaturan antrean dan manajemen kendaraan yang optimal.

Sementara itu, dari sektor angkutan logistik Pelabuhan Tanjung Wangi, khususnya kendaraan dengan tujuan Gilimas–Lembar, kondisi hingga saat ini dilaporkan tetap aman dan terkendali.

Upaya antisipasi terhadap kepadatan terus dilakukan, termasuk dengan mengatur kendaraan agar tidak seluruhnya menumpuk di ruas jalan utama.

Kendaraan yang terdampak kepadatan arus logistik Jawa–Bali diupayakan diarahkan ke kantong-kantong maupun lahan parkir yang telah disiapkan sehingga pergerakan kendaraan tetap tertata.

Meski kepadatan di jalur logistik Jawa–Bali dapat memberikan imbas terhadap pergerakan kendaraan di sekitar kawasan pelabuhan, koordinasi dan pengaturan di lapangan terus diupayakan agar arus angkutan dari Tanjung Wangi menuju Gilimas–Lembar tetap berjalan lancar, aman dan terkendali.

Menanggapi kondisi tersebut, Selamet Solichin atau yang akrab disapa Mbah Semar, meminta pihak ASDP Ketapang bersama seluruh pemangku kepentingan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pola antrean dan pergerakan kendaraan berat di sekitar kawasan pelabuhan.

Menurutnya, persoalan kepadatan kendaraan yang berulang tidak semestinya hanya ditangani sebagai persoalan situasional setiap kali terjadi peningkatan volume kendaraan.

“Kami meminta ASDP Ketapang serius mengevaluasi persoalan ini. Kalau pola kepadatan terus berulang dari waktu ke waktu, berarti ada hal yang harus dibenahi secara menyeluruh.

Jangan sampai setiap terjadi antrean baru dilakukan penanganan, kemudian persoalan yang sama kembali muncul,” tegas Mbah Semar.

Ia menekankan bahwa kelancaran akses menuju pelabuhan memiliki dampak luas, bukan hanya bagi pengguna jasa penyeberangan, tetapi juga terhadap distribusi barang, aktivitas ekonomi, keselamatan pengguna jalan serta masyarakat yang tinggal di sekitar jalur Ketapang.

“Yang kami dorong bukan mencari siapa yang salah, tetapi bagaimana persoalan ini mendapatkan solusi yang terukur dan berkelanjutan. ASDP perlu melihat secara komprehensif titik-titik yang menjadi sumber penumpukan kendaraan, kapasitas pelayanan, sistem antrean serta pola pengaturan kendaraan berat,” ujarnya.

Mbah Semar juga mendorong koordinasi yang lebih kuat antara ASDP, kepolisian, Dinas Perhubungan, pemerintah daerah dan seluruh stakeholder terkait dalam mengantisipasi kepadatan kendaraan di jalur menuju pelabuhan.

Menurutnya, diperlukan skema manajemen lalu lintas yang mampu menyesuaikan dengan fluktuasi volume kendaraan, khususnya kendaraan logistik.

“Ketika volume kendaraan meningkat, harus ada skenario yang jelas. Di mana kendaraan ditampung, bagaimana pola antreannya, bagaimana rekayasa arusnya, dan bagaimana memastikan kendaraan tidak menumpuk di ruas jalan umum.

Semua itu harus dipersiapkan dan dikomunikasikan dengan baik,” kata Mbah Semar.

Selain kelancaran lalu lintas, kepadatan kendaraan berat juga perlu dilihat dari aspek keselamatan.

Pengendara roda dua maupun kendaraan kecil yang melintas di antara kendaraan berat diimbau menjaga jarak aman, tidak melakukan manuver secara tiba-tiba, serta menghindari upaya mendahului apabila kondisi tidak memungkinkan.

Mbah Semar menegaskan, sorotan terhadap persoalan tersebut merupakan bagian dari kontrol sosial dan kepedulian terhadap kualitas pelayanan publik.

“Kami berharap kritik dan masukan dari masyarakat maupun media jangan dipandang sebagai serangan.

Justru kondisi di lapangan harus menjadi bahan evaluasi. Kalau memang ada kekurangan, mari diperbaiki bersama.

Persoalan yang terjadi berulang harus dicari akar masalahnya dan dicarikan solusi permanen,” tegasnya.

Ia juga berharap pihak ASDP dapat memberikan penjelasan kepada publik mengenai langkah-langkah yang telah dan akan dilakukan dalam mengantisipasi kepadatan kendaraan berat di kawasan Ketapang.

Menurutnya, transparansi informasi penting agar masyarakat, pengguna jasa maupun pengemudi kendaraan logistik memahami kondisi serta pola pelayanan yang diterapkan.

“Pelabuhan Ketapang adalah salah satu gerbang penting Jawa–Bali. Karena itu, pelayanan harus terus ditingkatkan.

Jangan sampai persoalan antrean kendaraan menjadi persoalan tahunan yang terus berulang tanpa penyelesaian yang fundamental,” pungkasnya.


(Red)

Editor : Priyo