Beritakasus.com//Surabaya – Di tengah ancaman perubahan iklim ekstrem, menurunnya kesuburan tanah, tingginya biaya produksi, serta risiko gagal panen yang terus membayangi sektor pertanian, Program Jaran Kepang(Jaringan Aksi Nasional Ketahanan Pangan) hadir sebagai gerakan nyata untuk memperkuat ketahanan pangan nasional sekaligus mendukung percepatan swasembada pangan Indonesia.
Program yang diinisiasi oleh Yayasan Jawapes Indonesia Emas, Jaringan Warga Peduli Sosial (JAWAPES), dan PT Rino Subur Farm ini sejalan dengan berbagai kebijakan pemerintah, antara lain Peraturan Presiden Nomor 14 Tahun 2026 tentang Infrastruktur Pascapanen, Instruksi Presiden Nomor 2 Tahun 2026 tentang Percepatan Swasembada Pangan, serta Instruksi Presiden Nomor 3 Tahun 2026 tentang Pengadaan dan Pengelolaan Jagung Nasional.
Peluncuran Program Jaran Kepang bertepatan dengan peringatan Hari Keamanan Pangan Sedunia pada 4 Juni 2026 dan diperkuat dengan momentum Gerakan Tanam Serempak 1.000 hektare di 19 provinsi yang berlangsung sepanjang Juni 2026.
Ketua Yayasan Jawapes Indonesia Emas, Rizal Diansyah Soesanto, menegaskan bahwa ketahanan pangan tidak cukup hanya mengandalkan peningkatan produksi, tetapi juga harus dibarengi dengan upaya memperbaiki kualitas lahan serta memperkuat kemandirian petani.
“Jika kerusakan tanah, ketergantungan pupuk kimia, dan rendahnya produktivitas tidak segera diatasi, maka ancaman terhadap ketahanan pangan nasional akan semakin besar.
Jaran Kepang hadir sebagai gerakan kolaboratif untuk menjawab persoalan tersebut secara berkelanjutan,” tegasnya.
Sementara itu, Koordinator Jaran Kepang, Giono, menjelaskan bahwa program ini berfokus pada pembinaan kelompok tani, pendampingan pertanian berkelanjutan, peningkatan produktivitas lahan, penguatan pangan lokal, perbaikan kualitas tanah, pengurangan ketergantungan terhadap pupuk kimia, hingga peningkatan kesejahteraan petani.
Sebagai bentuk dukungan terhadap program tersebut, PT Rino Subur Farm menghadirkan Pupuk Organik Cair (POC) ETANA yang telah dikembangkan sejak tahun 2018.
Produk ini dirancang untuk membantu memperbaiki struktur tanah, meningkatkan ketersediaan unsur hara, mendorong pertumbuhan tanaman, meningkatkan kualitas dan kuantitas hasil panen, sekaligus menekan biaya produksi pertanian.
Formulator POC ETANA, Erix Kurniawan Hendrianto, menyebut bahwa tantangan utama pertanian saat ini tidak hanya berasal dari cuaca ekstrem, tetapi juga menurunnya kesehatan tanah akibat penggunaan pupuk kimia secara berlebihan dan berkelanjutan.
“Produktivitas tinggi tidak akan bertahan jika tanah terus mengalami degradasi. Karena itu diperlukan solusi yang mampu meningkatkan hasil panen sekaligus memulihkan kesuburan lahan secara berkelanjutan,” ujarnya.
Dukungan terhadap Program Jaran Kepang juga datang dari kalangan akademisi.
Pakar Teknologi dan Kecerdasan Buatan dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Mochamad Hariadi, menilai bahwa penguatan ketahanan pangan nasional membutuhkan pendekatan inovatif yang mengintegrasikan teknologi, pemberdayaan masyarakat, serta kolaborasi multipihak.
“Ketahanan pangan nasional bergantung pada pemanfaatan teknologi pertanian untuk meningkatkan produktivitas dan keberlanjutan.
Melalui Jaran Kepang, gerakan ini dapat menjadi langkah strategis dalam memperkuat produktivitas petani dan ketahanan pangan dari tingkat desa hingga nasional,” katanya.
Dengan tantangan pangan yang semakin kompleks, Program Jaran Kepang dinilai menjadi salah satu gerakan strategis yang layak mendapatkan dukungan dari pemerintah, akademisi, dunia usaha, dan masyarakat sebagai solusi nyata dalam memperkuat ketahanan pangan nasional sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani Indonesia.
(Red)
Editor : Priyo