Tilang Manual Kembali Diterapkan di Surabaya, Kenjeran dan Kawasan Tengah Jadi Sasaran

Beritakasus.com//Surabaya — Satlantas Polrestabes Surabaya kembali menerapkan tilang manual mulai Senin (28/9/2026).

Penindakan tersebut menyasar sejumlah lokasi yang dinilai rawan terjadi pelanggaran lalu lintas, termasuk kawasan Kenjeran dan sejumlah ruas jalan yang kerap digunakan untuk melawan arus.

Kasatlantas Polrestabes Surabaya AKBP Galih Bayu Raditya mengatakan, salah satu titik yang menjadi perhatian petugas adalah perempatan Kenjeran serta ruas jalan yang sering digunakan pengendara untuk melawan arus.

"Di perempatan Kenjeran. Kemudian di daerah jalan yang sering digunakan untuk melawan arus," ujar AKBP Galih Bayu Raditya, Selasa (29/9/2026).

Selain kawasan Kenjeran, petugas juga menyasar sejumlah ruas di tengah Kota Surabaya, terutama pada malam hari, kawasan tersebut menjadi perhatian karena kerap digunakan sebagai lokasi balap liar.

"Selain itu, di daerah-daerah tengah kota, terutama pada malam hari, yang sering dijadikan arena balap liar," ujarnya.

Menurut Galih, dalam salah satu penindakan, petugas bahkan mengamankan sebanyak 155 unit sepeda motor dalam satu hari.

"Kemarin sudah kita tangkap total 155 unit motor dalam satu hari," imbuhnya.

Dalam penerapan tilang manual tersebut, polisi menegaskan tidak melayani pembayaran denda secara langsung di tempat.

Pelanggar akan diarahkan melakukan pembayaran melalui bank yang telah ditunjuk.

"Pembayaran dilakukan melalui BRI, Polisi tidak akan menerima pembayaran secara langsung.

Silakan pembayaran dilakukan langsung ke BRI, pelanggar juga bisa mengikuti sidang sesuai tanggal yang telah ditentukan," tegasnya.

Meski tilang manual kembali diterapkan, sistem penindakan elektronik atau ETLE tetap diberlakukan di Kota Surabaya.

Galih menjelaskan, penerapan kembali tilang manual dilakukan karena sejumlah pertimbangan. Salah satunya adalah keterbatasan kamera ETLE di beberapa wilayah Surabaya.

Selain itu, polisi menemukan adanya kendaraan yang menggunakan pelat nomor palsu maupun kendaraan yang tidak menggunakan pelat nomor.

"Kedua, celah yang paling fatal adalah masyarakat, sekarang banyak yang menggunakan plat palsu atau bahkan tidak menggunakan plat sama sekali," ujarnya.

Faktor lainnya adalah masih tingginya perhatian terhadap keselamatan lalu lintas menyusul kecelakaan yang terjadi di Kota Surabaya.

"Intinya memang ada peningkatan kecelakaan lalu lintas dan kita ingin menekan angka tersebut agar kembali turun," pungkasnya.


(Anton)

Editor : Priyo